Rabu, 28 September 2016

Penurunan Permukaan Tanah



Penurunan Permukaan Tanah

gedung-gedung di Jakarta
Bumi semakin tua. Beberapa dari kita melihat dan sadar menuanya bumi berbanding lurus dengan menurunnya performa bumi. Salah satu buktinya mungkin kita seringkali mendengar atau membaca berita – berita mengenai penurunan permukaan tanah yang telah terjadi diberbagai wilayah dunia. Tahukah kamu apa itu penurunan permukaan tanah? Apa saja penyebabnya? Dampak apa saja yang akan kita peroleh jika hal tersebut tetap terjadi? Adakah cara untuk mengurangi masalah tersebut? Melalui artikel ini mungkin kita bisa saling berbagi pengetahuan. Yuk kita sama – sama belajar.
Selamat membaca :)
Penurunan permukaan tanah ialah pemerosotan tanah secara bertahap atau anjloknya permukaan tanah seiring dengan pergerakan material bumi. Seringkali penurunan permukaan tanah ini terjadi di kota – kota besar yang berdiri di atas lapisan sedimen, seperti Jakarta, Semarang, Bangkok, Shanghai, dan Tokyo.
          Menurut Whittaker dan Reddish (1989), penurunan tanah alami terjadi secara regional yaitu meliputi daerah yang luas atau terjadi secara lokal yaitu hanya sebagian kecil permukaan tanah. Hal ini disebabkan oleh adanya rongga di bawah permukaan tanah, yang biasanya terjadi di daerah berkapur.
Whittaker dan Reddish (1989) juga menerangkan berbagai penyebab terjadinya penurunan permukaan tanah secara alami ialah karena siklus geologi, sedimentasi daerah cekungan (sedimentary basin), dan adanya rongga di bawah permukaan tanah karena aktifitas tektonik dan vulkanik. Proses-proses yang terlihat dalam siklus geologi adalah pelapukan (denuation), pengendapan (deposition), dan pergerakan kerak bumi (crustal movement). Sementara sedimentasi daerah cekungan biasanya terdapat di daerah tektonik lempeng, terutama di dekat perbatasan lempeng. Sedimen yang terkumpul di cekungan semakin lama semakin banyak dan menimbulkan beban yang bekerja semakin meningkat, kemudian proses kompaksi sedimen tersebut menyebabkan terjadinya penurunan pada permukaan tanah.
Penyebab selanjutnya ialah penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah (groundwater extraction). Pengambilan air tanah secara besar-besaran yang melebihi kemampuan pengambilannya akan mengakibatkan berkurangnya jumlah air tanah pada suatu lapisan akuifer. Hilangnya air tanah ini menyebabkan terjadinya kekosongan pori-pori tanah sehingga tekanan hidrostatis di bawah permukaan tanah berkurang sebesar hilangnya airtanah tersebut. Selanjutnya akan terjadi pemampatan lapisan akuifer
Penyebab yang lainnya adalah penurunan permukaan tanah akibat beban bangunan (settlement). Tanah memiliki peranan penting dalam pekerjaan konstruksi. Tanah dapat menjadi pondasi pendukung bangunan atau bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti tanggul atau bendungan. Penambahan bangunan di atas permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan di bawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan adanya deformasi partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau udara dari dalam pori, dan sebab lainnya yang sangat terkait dengan keadaan tanah yang bersangkutan. Proses pemampatan ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah
Melihat kondisi Indonesia tentu kita teringat akan kota Jakarta yang jikalau kita perhatikan hampir setiap penyebab penurunan permukaan tanah bersarang di Ibukota kita tercinta. Jika dilihat-lihat Jakarta sendiri merupakan megakota dimana perkembangan populasi berlangsung dengan sangat cepat. Di Jakarta juga terdapat kompleksitas secara geografis, peningkatan infrastrukur terus dilakukan berupa pembuatan gedung-gedung untuk melayani jumlah permintaan penduduk yang ada. Akhirnya dengan peningkatan perkembangan populasi yang cepat dan pembangunan infrastruktur yang cukup kompleks, pemakaian energy tentunya juga meningkat. Konsumsi energy, air, dan makanan menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan penurunan permukaan air tanah yang terjadi di DKI Jakarta rata-rata per tahun 5 cm. Tentu angka ini sangat memilukan. Angka 5 cm bukanlah angka yang kecil. Perlu adanya tindakan dari semua pihak untuk mengurangi hal tersebut. Jika kita tidak bergegas entah akan jadi apa Jakarta kemudian.
Namun sayang, eksploitasi terhadap penggunaan air terus saja berlanjut. Untuk memenuhi kebutuhan individu dan industry eksplotasi terhadap air tak kunjung berhenti. Penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat ekploitasi air tanah Jakarta yang berlebihan, menyebabkan posisi Jakarta terhadap laut semakin rendah. Pembuatan gedung – gedung dan jalan layang sebagai bentuk investasi di Jakarta juga malah semakin gencar. Kondisi ini diperburuk dengan akibat pemanasan global (global warming) yaitu kecenderungan meningkatnya muka air laut sampai hampir di sebagian besar kota-kota dunia. Penurunan daratan di Ancol dan meningkatnya risiko terjadinya banjir dan genangan ini dapat dijadikan salah satu indikator tentang Jakarta sedang menuju tenggelam.
Penurunan muka tanah memberikan dampak negatif secara langsung di sekitar wilayah itu. Misalnya saja menyebabkan banjir dan rob (tidal flooding) di daerah pantai (coastal zone), kerusakan pada gedung-gedung dan rumah-rumah, serta infrastruktur seperti jembatan dan jalan, bahkan dapat menyebabkan meledaknya pipa gas. Di dalam kehidupan sosial penurunan muka tanah juga merupakan implikasi dari berkurangnya kualitas hidup dan lingkungan (kondisi sanitasi dan kesehatan) di wilayah terdampak.
Untuk mengatasi dan menanggulangi permasalahan penurunan tanah cukup sulit. Namun sesuatu yang sulit  jika semua pihak turut serta berkontribusi dalam upaya penurunan tanah tersebut tentunya akan menjadi mudah. Benar kita tidak mungkin dapat menghentikan laju penurunan permukaan tanah ini, apalagi mencoba menaikkan kembali permukaan tanah kembali seperti sedia kala. Dimulai dari hal kecil dengan mengkonservasi penggunaan energy dan air dapat kita lakukan.
Selain itu Pemerintah Pusat dan Daerah secara sinergis melakukan langkah-langkah sebagai berikut, melakukan penambahan resapan air kedalam tanah , untuk keperluan air bersih perlu mulai mempertimbangkan untuk mengganti penggunaan air tanah dengan mengolah air permukaan, dalam membangun konstruksi bangunan serta perencanaan tata ruang perlu mempertimbangkan adanya amblesan air tanah serta sebaran air tanah payau/asin.
Langkah selanjutnya adalah dengan penambahan kolam penampungan air hujan sebagai pengganti air tanah yang telah tergusur oleh pembangunan konstruksi bawah tanah dan pemulihan fungsi situ-situ di DKI Jakarta. Memanfaatkan penggunaan penggunaan air bawah tanah (ABT) seperlunya tanpa melakukan eksploitasi berlebihan dan menggantinya dengan air permukaan sebagai sumber air baku atau dari PDAM.

referensi :