Penurunan
Permukaan Tanah
Bumi semakin
tua. Beberapa dari kita melihat dan sadar menuanya bumi berbanding lurus dengan
menurunnya performa bumi. Salah satu buktinya mungkin kita seringkali mendengar
atau membaca berita – berita mengenai penurunan permukaan tanah yang telah
terjadi diberbagai wilayah dunia. Tahukah kamu apa itu penurunan permukaan
tanah? Apa saja penyebabnya? Dampak apa saja yang akan kita peroleh jika hal
tersebut tetap terjadi? Adakah cara untuk mengurangi masalah tersebut? Melalui artikel
ini mungkin kita bisa saling berbagi pengetahuan. Yuk kita sama – sama belajar.
Selamat membaca :)
Penurunan permukaan tanah ialah pemerosotan tanah secara bertahap atau
anjloknya permukaan tanah seiring dengan pergerakan material bumi. Seringkali
penurunan permukaan tanah ini terjadi di kota – kota besar yang berdiri di atas
lapisan sedimen, seperti Jakarta, Semarang, Bangkok, Shanghai, dan Tokyo.
Menurut Whittaker dan Reddish
(1989), penurunan tanah alami terjadi secara regional yaitu meliputi daerah
yang luas atau terjadi secara lokal yaitu hanya sebagian kecil permukaan tanah.
Hal ini disebabkan oleh adanya rongga di bawah permukaan tanah, yang biasanya terjadi
di daerah berkapur.
Whittaker dan Reddish (1989) juga menerangkan berbagai penyebab
terjadinya penurunan permukaan tanah secara alami ialah karena siklus geologi,
sedimentasi daerah cekungan (sedimentary basin), dan adanya rongga di bawah
permukaan tanah karena aktifitas tektonik dan vulkanik. Proses-proses yang terlihat
dalam siklus geologi adalah pelapukan (denuation), pengendapan (deposition),
dan pergerakan kerak bumi (crustal movement). Sementara sedimentasi daerah
cekungan biasanya terdapat di daerah tektonik lempeng, terutama di dekat
perbatasan lempeng. Sedimen yang terkumpul di cekungan semakin lama semakin
banyak dan menimbulkan beban yang bekerja semakin meningkat, kemudian proses
kompaksi sedimen tersebut menyebabkan terjadinya penurunan pada permukaan
tanah.
Penyebab selanjutnya ialah penurunan permukaan tanah akibat pengambilan
air tanah (groundwater extraction). Pengambilan air tanah secara besar-besaran
yang melebihi kemampuan pengambilannya akan mengakibatkan berkurangnya jumlah
air tanah pada suatu lapisan akuifer. Hilangnya air tanah ini menyebabkan
terjadinya kekosongan pori-pori tanah sehingga tekanan hidrostatis di bawah
permukaan tanah berkurang sebesar hilangnya airtanah tersebut. Selanjutnya akan
terjadi pemampatan lapisan akuifer
Penyebab yang lainnya adalah penurunan permukaan tanah akibat beban
bangunan (settlement). Tanah memiliki peranan penting dalam pekerjaan
konstruksi. Tanah dapat menjadi pondasi pendukung bangunan atau bahan
konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti tanggul atau bendungan. Penambahan
bangunan di atas permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan di bawahnya
mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan adanya deformasi partikel
tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau udara dari dalam pori, dan sebab
lainnya yang sangat terkait dengan keadaan tanah yang bersangkutan. Proses
pemampatan ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah
Melihat kondisi Indonesia tentu kita teringat akan kota Jakarta yang jikalau
kita perhatikan hampir setiap penyebab penurunan permukaan tanah bersarang di
Ibukota kita tercinta. Jika dilihat-lihat Jakarta sendiri merupakan megakota
dimana perkembangan populasi berlangsung dengan sangat cepat. Di Jakarta juga terdapat
kompleksitas secara geografis, peningkatan infrastrukur terus dilakukan berupa
pembuatan gedung-gedung untuk melayani jumlah permintaan penduduk yang ada. Akhirnya
dengan peningkatan perkembangan populasi yang cepat dan pembangunan
infrastruktur yang cukup kompleks, pemakaian energy tentunya juga meningkat. Konsumsi
energy, air, dan makanan menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
memperkirakan penurunan permukaan air tanah yang terjadi di DKI Jakarta
rata-rata per tahun 5 cm. Tentu angka ini sangat memilukan. Angka 5 cm bukanlah
angka yang kecil. Perlu adanya tindakan dari semua pihak untuk mengurangi hal
tersebut. Jika kita tidak bergegas entah akan jadi apa Jakarta kemudian.
Namun sayang,
eksploitasi terhadap penggunaan air terus saja berlanjut. Untuk memenuhi
kebutuhan individu dan industry eksplotasi terhadap air tak kunjung berhenti.
Penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat ekploitasi air tanah Jakarta yang
berlebihan, menyebabkan posisi Jakarta terhadap laut semakin rendah. Pembuatan gedung
– gedung dan jalan layang sebagai bentuk investasi di Jakarta juga malah
semakin gencar. Kondisi ini diperburuk dengan akibat pemanasan global (global
warming) yaitu kecenderungan meningkatnya muka air laut sampai hampir di
sebagian besar kota-kota dunia. Penurunan daratan di Ancol dan meningkatnya
risiko terjadinya banjir dan genangan ini dapat dijadikan salah satu indikator
tentang Jakarta sedang menuju tenggelam.
Penurunan muka tanah memberikan dampak negatif secara
langsung di sekitar wilayah itu. Misalnya saja menyebabkan banjir dan rob (tidal
flooding) di daerah pantai (coastal zone), kerusakan pada
gedung-gedung dan rumah-rumah, serta infrastruktur seperti jembatan dan jalan,
bahkan dapat menyebabkan meledaknya pipa gas. Di dalam kehidupan sosial penurunan
muka tanah juga merupakan implikasi dari berkurangnya kualitas hidup dan
lingkungan (kondisi sanitasi dan kesehatan) di wilayah terdampak.
Untuk mengatasi dan menanggulangi permasalahan penurunan
tanah cukup sulit. Namun sesuatu yang sulit jika semua pihak turut serta berkontribusi
dalam upaya penurunan tanah tersebut tentunya akan menjadi mudah. Benar kita
tidak mungkin dapat menghentikan laju penurunan permukaan tanah ini, apalagi
mencoba menaikkan kembali permukaan tanah kembali seperti sedia kala. Dimulai
dari hal kecil dengan mengkonservasi penggunaan energy dan air dapat kita
lakukan.
Selain itu Pemerintah Pusat dan Daerah secara sinergis
melakukan langkah-langkah sebagai berikut, melakukan penambahan resapan air
kedalam tanah , untuk keperluan air bersih perlu mulai mempertimbangkan untuk
mengganti penggunaan air tanah dengan mengolah air permukaan, dalam membangun
konstruksi bangunan serta perencanaan tata ruang perlu mempertimbangkan adanya
amblesan air tanah serta sebaran air tanah payau/asin.
Langkah selanjutnya adalah dengan penambahan kolam
penampungan air hujan sebagai pengganti air tanah yang telah tergusur oleh
pembangunan konstruksi bawah tanah dan pemulihan fungsi situ-situ di DKI
Jakarta. Memanfaatkan penggunaan penggunaan air bawah tanah (ABT) seperlunya
tanpa melakukan eksploitasi berlebihan dan menggantinya dengan air permukaan
sebagai sumber air baku atau dari PDAM.
referensi :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar